people

Rendria Arsyan Labde: Memperkenalkan cara hidup yang lebih baik mulai dari lingkungan terkecil

Text by Arunee Sarasetsiri. Photo by Xandega Tahajuansya & Kebun Kumara.

Mengenal lebih dekat Rendria Arsyan Labde, Co-Founder sekaligus Chief Executive Officer (CEO) Magale Developments lewat perbincangan tentang proyek Sandar, cara hidup yang lebih baik, sampai bagaimana permakultur mengubah cara pandangnya.

Bagaimana bisa memutuskan untuk keluar dari pekerjaan ‘mapan’ di bidang oil and gas dan memulai perusahaan properti sendiri?

Di masa kuliah saya sempat punya bisnis sendiri. Waktu itu saya mengalami banyak kejadian-kejadian baru yang mostly buruk. Tapi justru saat itu lebih terasa bahwa saya sedang memperjuangkan sesuatu yang meaningful, dan saya selalu punya harapan bahwa apa yang sedang dilakukan ini akan berbuah baik nantinya. Jadi saya terus bermimpi. Dinamika naik turun itulah yang membuat saya merasa lebih ‘hidup’.

Saat menjalani pekerjaan ‘mapan’, yang saya rasakan sangat bertolak belakang dengan pengalaman itu. Semuanya sudah di-set, seakan-akan ada rel yang juga sudah sering dijalankan oleh orang-orang. Seperti ada paradigma yang sudah terpatri sejak dulu kalau hidup adalah sekolah, kerja, nikah, punya anak, keluarga, mati. Jadi di sana saya malah merasa tidak mapan, karena apabila mapan artinya adalah kerja seperti itu, berarti pekerjaan mapan ini kurang cocok dengan prinsip hidup yang saya tuju dan percayai.

Akhirnya saya bertemu dengan sebuah kesempatan yang memperkenalkan saya ke industri properti bersama kedua sahabat saya (yang juga founder Magale Developments). Sejak itu, semangat yang tadinya hilang mulai hidup lagi, tentunya dengan harapan bisa lebih baik dari pengalaman bisnis sebelumnya.

Bisa dibilang kebetulan, ataupun mungkin takdir, bahwa saya bertemu dengan bisnis ini. Karena sejak dulu saya selalu merasa inspirasi pertama berasal dari lingkungan terdekat tiap individu, seperti keluarga, teman, dan rumah. Rumah berperan besar dalam pembangunan karakter dan perilaku tiap individu, mulai dari cara konsumsi, bersosialisasi, belajar dan berkembang. Setelah mempelajari lebih jauh industri properti dan segala aspek di dalamnya, semua terasa sangat logis, dan akhirnya saya memutuskan untuk mengambil langkah dalam membuat perusahaan sendiri dengan proyek pertama Sandar Andara.

Magale menaruh perhatian besar terhadap lingkungan. Apa kekhawatiran terbesar Anda tentang kondisi lingkungan kita sekarang?

Kekhawatiran terbesar saat ini adalah laju pemanasan global yang sudah tak terhentikan. Berdasarkan penelitian yang menjadi dasar Agreement Paris, peningkatan suhu bumi sudah mencapai di atas 1°C sejak masa industrialisasi, dan jika melebihi 2°C, kehidupan sudah nggak akan bisa sama seperti sekarang lagi. Sudah banyak kasus-kasus terjadi terkait hal ini, seperti gagal panen para petani di berbagai belahan dunia, dan bahkan ada orang yang meninggal dunia karena heat wave di beberapa negara.

Apa yang ingin dicapai lewat Magale Developments ataupun proyek Sandar?

Kami ingin mencoba berkontribusi dan berlaku positif terhadap alam. Dengan desain dan fitur-fitur yang diaplikasikan ke dalamnya, perumahan Sandar diharapkan bisa menginspirasi penghuninya dalam bertanggung jawab terhadap lingkungan alam maupun sosial.  

Kami merasa tempat tinggal sangat penting dalam hidup seseorang, karena pada dasarnya ‘papan’ memang salah satu kebutuhan primer manusia. Rumah adalah tempat ternyaman bagi tiap orang, dari bayi hingga dewasa. Itulah mengapa ada istilah “there’s no place like home”. Oleh karena itu, Magale selalu berpikir bahwa cara paling fundamental untuk bisa memperkenalkan cara hidup yang lebih baik adalah mulai dari lingkaran terkecil dulu, yaitu rumah. Banyak contoh cara hidup manusia, ataupun tata krama yang terbentuk dari kebiasaan-kebiasaan yang dilakukan di rumah.

Seperti apa cara hidup yang lebih baik menurut Magale?

Jika kita lihat dari perspektif kontribusi positif dan negatifnya, yang lebih baik pasti yang kontribusinya positif. ‘Rumah’ yang kita sebut dengan bumi ini memberikan manusia segalanya. Semua kekayaan dan kedaulatan yang didapatkan oleh tiap individu berasal dari Bumi. Jadi, untuk mempertahankan kekayaan dan kedaulatan itu, kita harus menjaga 'rumah' kita bersama ini.

Namun, saat ini yang sangat jelas sedang terjadi adalah demand akan sumber daya yang sangat besar, menyebabkan eksploitasi yang berlebihan untuk kepentingan kita sendiri. Analoginya seperti ini: kita punya tempat tinggal, tapi untuk dapat uang untuk makan dan hidup, yang kita jual malah kayu-kayu yang membuat rumah itu berdiri, sehingga lama-kelamaan rumah itu akan hancur dan kita akan kehilangan rumah. Akhirnya usaha kita untuk makan dan tetap hidup jadi pointless.

Kita harus lebih kritis terhadap segala sesuatu yang dilakukan. Know the problem. Sadari bahwa manusia hanyalah bagian dari alam, sama seperti makhluk hidup lainnya. Bayangkan saja kalau tiba-tiba gajah memutuskan untuk merusak bendungan danau yang membuat air mengalir deras dan merusak pemukiman manusia di sekitarnya hanya untuk memenuhi kebutuhan si gajah. Itulah yang sekarang dilakukan manusia terhadap makhluk hidup lain.

Menurut Anda bagaimana tingkat environmental awareness maupun inisiatif di Indonesia sekarang ini? Dan mengingat kondisi global sekarang yang sebenarnya sudah darurat, bagaimana menurut Anda cara untuk meningkatkan kesadaran itu?

Tingkat awareness kita saat ini mungkin bisa dibilang sangat minim. Padahal dengan lokasi yang sangat strategis, Indonesia punya sumber daya yang berlimpah. Tapi pengelolaannya sangat tidak bertanggung jawab dan sering tidak tepat guna. Sekarang dunia berbondong-bondong bergeser ke arah renewable energy, sedangkan Indonesia masih cenderung stagnan dengan pendekatan business as usual-nya.

Manusia adalah makhluk hidup juga, dan salah satu sifat dasarnya adalah to survive. Sebagian besar energi yang diproduksi sekarang berasal dari sumber nonrenewable. Masyarakat luas sudah tahu kalau yang namanya nonrenewable energy suatu saat akan habis, tapi saat ini kita masih sangat bergantung pada minyak, batu bara, dan lain-lain. Bayangkan ketika seluruh nonrenewable source itu benar-benar habis. Hidup kita akan berubah drastis secara tiba-tiba.

Untuk meningkatkannya harus dimulai dari diri masing-masing. Seringkali kita terbiasa untuk langsung menyalahkan pemerintah. Walaupun memang benar pemerintah memegang peranan besar dalam hal ini, tapi sifat menyalahkan itu menjadi excuse yang sebenarnya menghambat perubahan di dalam diri masing-masing individu. Perilaku kita merupakan vote atas sistem yang berjalan. Jika perilaku kita terus-menerus berdasar pada sistem yang salah, itu menjadi pembuktian bahwa sistem tersebut berhasil dan akan terus berjalan. Contoh paling konkret adalah perilaku konsumsi manusia. Ketika kita terus menerus mengkonsumsi plastik yang merupakan perusak utama lingkungan dan ekosistem, maka plastik akan terus diproduksi dan akhirnya semakin mencemari lingkungan.

Anda pernah ikut Permaculture Design Course. Bagaimana permaculture mengubah cara pandang Anda terhadap lingkungan ataupun mempengaruhi decision making dalam Magale?

Setelah ikut PDC, permaculture menjadi guide untuk saya memandang kehidupan. Bahwa manusia adalah bagian dari alam, bagian dari ekosistem, dan alam selalu memberikan apapun yang kita butuhkan. It’s about working with nature and not against it. Permaculture mengajarkan saya untuk lebih membuka mata dan menghargai alam sebagaimana mestinya. Ada cara kerja alam yang bisa manusia pelajari sehingga kita bisa membantu mereka untuk membantu kita lebih jauh. Dengan permaculture semuanya dibuat menjadi lebih logis.

Anda juga membuat Kebun Kumara. Bisa ceritakan tentang Kebun Kumara?

Salah satu masalah paling fundamental di Indonesia adalah masalah edukasi: kualitasnya, distribusi yang tidak merata dan masih banyak lagi. Edukasi yang selama ini diajarkan di lingkungan urban bertanggung jawab atas kesenggangan kita dengan alam. Kebun Kumara bertujuan untuk membantu generasi muda untuk kembali lebih sadar dan memiliki koneksi mendalam dengan alam, bahwa we have to live with nature, because we are part of nature.

Situ Gintung merupakan tempat wisata yang digunakan untuk outbound, berkemah, dan lain-lain, dengan lokasi yang sangat strategis, resourceful, indah, dan penuh potensi. Namun, karena sangat banyak pengunjung yang datang ke tempat ini, semakin banyak juga masalah yang timbul. Masalah yang paling utama adalah sampah. Pembakaran dan penimbunan sudah jadi hal biasa, pencemaran lingkungan pun sudah seakan mendarah daging di area ini.

Kebun Kumara menyadari potensi dan masalah tersebut. Kami berencana untuk merevitalisasi tempat ini baik dari segi lingkungan maupun sosial, dan menjadikannya sebuah praktik kehidupan mandiri berbasis permaculture. Target utama adalah anak-anak muda yang diharapkan bisa menyebarluaskan ilmunya ke khalayak luas. Selain itu, dari segi personal, kami juga menginginkan kehidupan yang berdaulat dan berkelanjutan, tidak bergantung terhadap industri-industri yang bertanggung jawab atas kerusakan ‘rumah’ kita.

31_3_7_n.jpeg

Xandega Tahajuansya: "Leading by example" dengan prinsip sustainability bisnis dan pribadi

Text and photo by Arunee Sarasetsiri

Simak perbincangan kami dengan Xandega Tahajuansya, Chief Operating Officer (COO) Magale Developments, tentang mengapa ia memutuskan untuk terjun ke bisnis properti di usia muda, hingga visi besar yang ingin dicapai lewat perumahan Sandar.

Apa yang bikin Anda percaya diri untuk terjun ke bisnis properti di usia muda?

Sebenarnya prosesnya sih cukup organik. Kalau saya ingat-ingat ke belakang, banyak hal-hal yang nggak saya rencanakan tapi mendukung untuk ambil kesempatan terjun ke properti. Jadi saya nggak mau menyia-nyiakan kesempatan itu. Untungnya, semua yang terlibat di Magale Developments adalah orang-orang yang kompeten dan berdedikasi, nggak ada yang kerjanya setengah-setengah, jadi saya rasa bisnis ini akan berkelanjutan. Mungkin bisnis ini cenderung lebih slow moving, tapi dengan harga tanah yang terus naik, investasi di properti sebetulnya aman untuk ke depannya.

Apa yang membuat Magale Developments beda dari developer lain?

Pertama, kami mengerjakan segala sesuatu dengan genuine. Saat kami bikin rumah atau tempat tinggal, kami selalu menempatkan diri sebagai penghuni. Karena sebagai penghuni pasti kita mau yang terbaik, dari segi kenyamanan, keamanan, kualitas, apapun. Jadi pertanyaan yang jadi dasar perencanaan pasti: Apakah gue sendiri nyaman dan mau untuk tinggal di rumah seperti itu?

Kedua, dari awal Magale Developments dibentuk, kami sudah punya visi yang jauh. Kami mencoba approach developer properti ini sebagai tech company yang visi ke depannya adalah membuat hidup manusia lebih baik. Nah, kami berusaha mewujudkan cara hidup manusia yang lebih baik lewat tempat tinggal mereka, karena lingkungan terdekat atau terkecil kita kan rumah kita sendiri. Jadi, tujuannya adalah sustainable living, tapi sekarang ini kami baru bisa terapkan responsible living dulu di kota besar. Paling nggak cara hidup yang bertanggung jawab ini nggak membuat kondisi kota yang sudah kurang sehat [menjadi] tambah parah. Jadi kami nggak hanya jual rumah saja, tapi cara hidup itu. Kami sudah tentukan goal kami, sudah merumuskan langkah-langkah apa saja yang harus diambil, cara-caranya bagaimana, dan sekarang tinggal kami eksekusi saja.

Image courtesy of Polka Wars

Anda juga aktif di dunia musik. Apakah ada sesuatu dari dunia musik yang memengaruhi cara Anda melihat bisnis properti?

Saya sering lihat musisi-musisi yang punya energi dan ekspresi yang unaltered atau uncorrupted. Mereka benar-bener genuine dan pure dalam bermusik. Itu sih yang menginspirasi buat saya. Menurut saya energi itu perlu juga untuk diaplikasikan ke bisnis. Jadi nggak hanya cari profit, tapi bisnis properti juga [bisa dijadikan] sebagai wadah ekspresi dan kreasi.

Apa yang ingin dicapai lewat konsep ‘responsible home-munity’ SANDAR ANDARA?

Tujuan utamanya adalah self-sustaining. Jadi, idealnya kami ingin bikin sebuah area bisa jadi ekosistem yang berdikari, dimana mereka memakai energi secara efisien, punya fasilitas yang dibutuhkan penghuni dalam jarak yang berdekatan, dan bisa memproduksi makanan sendiri.

Untuk menuju ke sana, sedikit demi sedikit kami implementasikan fitur-fitur responsible living di semua perumahan Sandar, termasuk SANDAR ANDARA sebagai yang pertama. Kami ingin orang-orang di kota mulai mengaplikasikan cara hidup yang lebih bertanggung jawab. Sebisa mungkin limbah yang dihasilkan nggak banyak, pemakaian energi lebih efisien tapi tetap nyaman, dan keseharian mereka nggak banyak berubah. Lewat SANDAR ANDARA, kami sediakan hunian dengan desain yang mendukung responsible living. Kami ingin penghuni SANDAR ANDARA juga bisa bangga dengan cara hidup itu, dan menyebarluaskan bahwa kenyamanan tidak berkurang saat kita hidup dengan lebih bertanggung jawab. Mereka bisa jadi contoh untuk orang-orang kota lainnya, karena belum banyak orang yang menjalankan cara hidup seperti itu di kota besar seperti Jakarta. Bahkan belum banyak orang yang peka bahwa apapun yang mereka lakukan itu punya efek yang besar terhadap lingkungan.

Saya harus menerapkan responsible living mulai dari diri saya sendiri dulu. Jangan sampai kami jadi hipokrit.

Apa saja tantangan dalam menerapkan konsep responsible living ini?

Yang pertama, saya harus menerapkan responsible living mulai dari diri saya sendiri dulu. Jangan sampai kami jadi hipokrit. Jadi kami semua di perusahaan [Magale] juga hidupnya harus responsible, berbisnis juga dengan cara yang responsible, dengan harapan nantinya akan ‘menular’ ke orang lain. Awalnya mungkin terasa nggak mudah. Tapi saat kita sudah benar-benar sadar bahwa apapun yang kita lakukan itu sangat berpengaruh, dan kalau kita bersikap indifferent itu dampaknya signifikan terhadap lingkungan, dorongan untuk hidup dengan lebih bertanggung jawab bakalan besar banget dan selanjutnya akan lebih mudah. 

Tapi kami juga nggak mau menggurui, jadi harus leading by example, memberi contoh secara organik dan gradual. Untuk SANDAR ANDARA, kami harus menemukan titik tengah, dimana rumah ini bisa menerapkan prinsip-prinsip responsible living, tapi nggak jadi mahal untuk calon penghuni yang mau beli. Kami harus bisa menunjukkan bahwa cara hidup ini nggak ribet, accessible untuk siapa saja, dan sebenarnya lifestyle kita nggak perlu berubah terlalu banyak. Kami juga nggak mau mendikte orang yang beli rumah di Sandar untuk harus bersikap responsible. Kami hanya memfasilitasi dengan desain rumah yang sedemikian rupa. Kalau orangnya nggak mau responsible, ya, it’s in their hands. Tapi sebenarnya fitur-fitur responsible yang ada di Sandar Andara ini efeknya langsung dan jadi benefit untuk penghuni juga, misalnya hemat listrik.

Apa harapan jangka pendek dan jangka panjang Anda?

Tentunya harapan supaya semua proyek Sandar berjalan lancar, dengan dukungan dari berbagai pihak atau medium. Saya juga berharap agar pesan yang ingin kami sampaikan lewat SANDAR ANDARA tersampaikan, bahwa semua orang bisa menjalankan hidupnya, apapun itu pekerjaan, status, atau latar belakangnya, secara responsible. Kami ingin SANDAR ANDARA bisa jadi contoh, sehingga nantinya gaya hidup ini akan jadi sesuatu yang common, yang diterapkan oleh banyak orang. Dalam waktu kurang dari 5 tahun, semoga kami bisa bikin proyek ideal di mana visi dan misi kami untuk mengubah cara hidup urban jadi lebih bertanggung jawab itu terlaksana.

Dalam jangka panjang, kami berharap dalam 10 tahun kami bisa membuat sebuah responsible living village yang self-sustaining di luar kota besar. Ini bisa dimanapundi Jawa, Sumatera, Sulawesi, atau Nusa Tenggara. Kami ingin membuat gaya hidup di desa yang berdikari sambil menjaga keberlanjutan lingkungan itu jadi gaya hidup baru yang paling keren, dan transmigrasi akan jadi tren. Kalau dari dulu orang desa ingin urbanisasi ke Jakarta karena media mainstream menggambarkan bahwa Jakarta memberikan banyak peluang, nantinya orang kota akan sadar bahwa hidup tidak bisa terus seperti sekarang ini. Tapi untuk ke sana kami harus mulai dari dalam kota dulu [dengan] memberikan alternatif cara hidup yang lebih baik di kota, lalu secara bertahap menggeser pola hidup ke arah responsible village tadi. Desa itu juga nggak cuma untuk orang Indonesia saja, tapi global citizen yang ingin menjalankan gaya hidup baru tersebut. Jadi nggak menutup kemungkinan kalau awal-awalnya yang ingin tinggal di desa justru masyarakat internasional, jadi tren, baru orang Indonesia mengikuti. Latah kalau untuk jadi lebih baik nggak ada salahnya menurut saya.