architecture

Andesh dan Ardi: Sustainability sebagai titik awal desain arsitektur

by Arunee Sarasetsiri dan Putti Kaya Hatti Imani

Kedua arsitek muda ini merupakan otak di balik desain ‘bertanggung jawab’ perumahan Sandar Andara. Setelah lulus dari Universitas Trisakti, Jakarta, Andesh dan Ardi terjun ke dunia praktisi sebagai arsitek, dan keduanya telah bekerja sama dalam sejumlah proyek. Selain menjadi arsitek, Andesh juga terlibat sebagai peneliti di Rujak Center for Urban Studies, sebuah lembaga kajian perkotaan yang bergerak di bidang tata kota, advokasi kebijakan, hingga pengembangan komunitas ke arah sustainability. Kami berbincang dengan Andesh dan Ardi untuk mengetahui lebih lanjut tentang keterlibatannya dalam Sandar Andara, proses desain, hingga pendapatnya tentang hunian yang bertanggung jawab.

Bagaimana awalnya bisa bekerja sama dengan Magale Developments?

Awalnya dari koneksi sekolah [Ardi bersekolah di SMA yang sama dengan tim Magale Developments]. Kami bertemu dan mereka menjelaskan keinginan mereka untuk membuat Sandar Andara. Visi misinya tidak seperti developer perumahan pada umumnya yang semata-mata keuntungan. Kualitas adalah yang utama. Walaupun ada penyesuaian budget, tapi desain dan kondisi bangunan harus tetap bagus.

Kebanyakan developer kurang memperhatikan kondisi bangunan dan material saat konstruksi. Biasanya mereka sudah punya rumus baku; denah seperti apa yang paling menguntungkan, kemudian fasadnya yang dibuat berbeda. Tapi setelah ngobrol dengan tim Magale tentang rencana ke depan, kami merasa ini akan jadi proyek yang seru, karena kami benar-benar bisa mengeksplorasi desain lebih jauh. Mereka ingin SANDAR ANDARA berbeda dari perumahan lainnya.

Bagaimana kalian menerjemahkan brief tersebut ke dalam desain?

Awalnya dari dialog. Kemudian kami menggali visi misi mereka dan kebutuhan target pasar yang merupakan keluarga modern. Kami mendesainnya sedemikian rupa supaya setiap unit yang luasnya 120 m2 ini bisa mengakomodir banyak kebutuhan. Setelah kami presentasikan, ternyata konsep awal disetujui dan tidak banyak perubahan fundamental, hanya penyesuaian layout. Akhirnya, kami membuat opsi-opsi untuk klien, misalnya pilih kamar tidur utama di lantai dua atau tiga, dan pilih punya ruang multifungsi atau kamar utama yang lebih besar. Jadi ada kemungkinan 6 unit ini memiliki perbedaan yang sesuai dengan keinginan klien nantinya, walaupun secara struktur tetap sama untuk memudahkan konstruksi. Sebagai arsitek kami bertugas menjelaskan konsekuensi-konsekuensi dari setiap pilihan desain, dan memberi masukan tentang [pilihan] mana yang lebih baik.

Apa saja yang mempengaruhi desain Anda?

Sejak tahun 2012, saya [Andesh] mulai aktif di Rujak Center for Urban Studies, dan mulai tahun 2014 mulai part-time di organisasi tersebut sebagai peneliti. Isu yang ditemukan bermacam-macam, mulai dari advokasi penggusuran, lingkungan hidup, sampai kesenian. Persinggungan dengan isu-isu ini yang membuat perspektif saya lebih luas. Saya tidak lagi melihat desain sebagai desain saja. Desain itu punya dampak ekologis, dampak sosial, psikologis, sampai pola konsumsi klien. Ini sangat berpengaruh pada desain saya.

Bagi kalian, apakah sustainability itu pilihan, keharusan, atau memang bagian dari desain yang tak terpisahkan?

Kami menjadikannya sebagai titik awal. Konsep desain awal yang ditawarkan selalu berawal dari sustainability. Dari situ baru kami lihat proses negosiasi dengan klien akan berjalan sejauh apa.

Sejauh mana kolaborasi kalian dengan pihak developer?

Menurut kami, selama ini proses dialog antara kami dengan pihak developer terjadi dengan baik. [Tentu saja] ada perdebatan dan negosiasi. Pada akhirnya, kami menemukan kesepakatan yang kami anggap paling baik, tidak ada pihak-pihak yang memaksakan kehendak. Kami menemukan common ground terlebih dahulu, jadi selanjutnya dialog akan mengarah ke penemuan solusi.

Filosofi SANDAR ANDARA adalah Responsible Home-munity. Menurut kalian, bangunan atau hunian yang ‘responsible’ itu seperti apa?

Sebenarnya yang bisa responsible itu bukan bangunannya, tapi orangnya. Orang ini berarti desainer, developer, dan penghuninya. Kalau ketiganya mampu bertanggung jawab terhadap apa yang dia lakukan, tentu lebih baik. Bangunan pada akhirnya hanya jadi dampak dari pertanggung jawaban tiga manusia ini.

Nah, sejauh mana desain itu responsible adalah tanggung jawab kami sebagai arsitek. Mungkin rumah ini belum bisa dikatakan sepenuhnya bangunan ramah lingkungan. Tapi dengan konteks di mana rumah ini untuk dijual dan penghuninya kami belum tahu seperti apa, kami usahakan tanggung jawab itu sejauh mungkin [dari pihak kami]. Misalnya dengan membuat pembukaan ventilasi silang. Selain itu, sebisa mungkin kami memberikan opsi, seperti jendela bisa dibuka dan ditutup untuk pemakaian AC. Kalau arsitek tidak memberikan opsi, itu yang menurut kami kurang bertanggung jawab.

Developer bertanggung jawab pada tahap pembangunan, sedangkan penghuni bertanggung jawab dalam tahap maintenance. Saat dihuni, arsitek dandeveloper sudah tidak ada, sehingga aktor utamanya adalah penghuni. Jika penghuni tidak merawat rumah dengan baik, tentu ada dampaknya. Walaupun sudah ada opsi untuk pola konsumsi yang lebih baik tapi penghuni tidak menerapkannya, tentu bangunannya juga jadi tidak bertanggung jawab. Selama manusianya tidak bertanggung jawab, bangunan juga tidak.

Metode responsible apa saja yang diterapkan di SANDAR ANDARA? 

Isu pertamanya adalah iklim, jadi kami buat rumah menghadap utara-selatan. Bukaan juga lebih banyak di sisi utara dan selatan untuk ventilasi silang dan memastikan cahaya matahari di dalam ruangan cukup banyak tapi tidak terlalu panas.

Isu lainnya adalah air. Kami mengupayakan air yang dipakai di perumahan ini sebisa mungkin dampaknya tidak terlalu negatif. Jadi kami buat sumur resapan, supaya apa yang sudah dipakai bisa dikembalikan ke dalam site, yang kemudian dengan proses filtrasi alam akan dapat terpakai kembali. Kami juga membuat bak penampung air hujan untuk rain harvesting system, sehingga air hujan bisa digunakan untuk kamar mandi, menyiram tanaman, atau mencuci. Keputusan ini juga menuntut pekerjaan tambahan dari penghuni, karena kalau tidak dirawat, sistemnya tidak akan berjalan.

Selain itu, kami juga memperhitungkan penggunaan material. Desain punya peranan penting dalam sejauh mana konsumsi material sebuah bangunan. Rumah yang banyak tembok pasti mengonsumsi material lebih banyak dari rumah yang temboknya sedikit. Tembok itu sendiri terdiri dari material bata, semen, yang untuk memproduksinya juga menghasilkan carbon footprint. Oleh karena itu, layout rumah di Sandar Andara sebisa mungkin kami buat open-plan. Tidak ada sekat yang memisahkan ruang tamu, ruang makan, dan dapur.

Hal-hal yang sederhana seperti ini yang kadang tidak kita sadari dampak positifnya, misalnya konsumsi listrik yang jadi lebih sedikit. Meskipun secara keseluruhan dampak ekologis bangunan masih negatif, tapi dampak negatif ini harus dijadikan sesedikit mungkin.

Realitanya, masih ada anggapan bahwa sustainability itu mahal. Bagaimana menurut kalian?

Sebenarnya kalau mau rumah sustainable itu investasinya bukan uang, tapi pikiran dan energi untuk berpikir. Untuk menjadikan sebuah rumah sustainable atau peka terhadap lingkungan, kita harus berpikir lebih keras, dan memang lebih sulit. Itu yang tidak semua orang menyanggupi. Ada kecenderungan masyarakat menginginkan hal yang sifatnya instan, padahal sustainability tidak bisa dihasilkan dari proses berpikir yang instan. Kalau dianalogikan dengan makanan, tentu mie instan nutrisinya tidak sebanyak capcay yang bahannya segar atau organik, serta disiapkan dan dimasak sendiri.

Rumah yang sustainable pun tidak otomatis lebih mahal. Kalau kita berpikir lebih keras lagi, mungkin rumah yang sustainable justru bisa lebih murah. Terkait uang, kita juga harus melihat secara jangka panjang. Mungkin di awal terasa lebih mahal, tapi selama 20 tahun ke depan, sangat mungkin sustainability itu lebih murah.

Seberapa jauh tingkat kesadaran masyarakat di Indonesia terhadap sustainability saat ini bagaimana?

Masih kurang, bahkan sampai generasi yang paling baru pun belum banyak. Ada yang sudah aware, tapi secara umum tidak mudah menemukan klien yang punya pemahaman, atau minimal terbuka terhadap pemikiran itu. Ada ketakutan, bahkan terhadap desain itu sendiri. Masih banyak yang takut dengan desain, karena prosesnya yang lebih lama dan menuntut untuk berpikir. Kembali lagi ke investasi pikiran tadi. Bukan hanya klien, arsitek juga masih ada yang tidak melatih kepekaan itu.

Isu sustainability sangat besar secara global, tapi di Indonesia terkadang konsep green masih sekadar menjadi gimmick. Bagaimana tanggapan kalian? 

Ada pengaruh media juga di sini. Media di Indonesia cenderung mengekspos desain dari segi bentuknya saja, bukan tentang nilai, konsep, semangat, proses, dan dialog. Jadi desain itu dianggap sebagai produk akhir saja, akhirnya yang ada peniruan. Makanya konsep green di Indonesia pun terlambat 20 tahun dari dunia luar karena kita meniru apa yang terjadi di luar. Seringkali yang ditiru hanya bentuknya, bukan esensinya. Padahal dari segi konteks tidak sama, dan bisa jadi yang diterapkan di sana tidak sesuai dengan di sini.

5-10 tahun lalu mungkin ‘latah’ atau peniruan masih banyak sekali. Namun, sekarang desain yang lebih kritis sudah mulai banyak. Penghargaan arsitektur juga tidak hanya melihat tampilannya, tapi juga sistem riil dan konteksnya. Memang ini semua proses, tapi prosesnya secepat atau selambat apa bergantung pada kita.