Permaculture

Mahayana Permaculture: Menyebarkan ‘virus’ permakultur lewat praktik nyata

Text by Arunee Sarasetsiri and Rendria Arsyan Labde. Photo by Mahayana Permaculture.

Permakultur adalah sistem agrikultur dan prinsip desain lingkungan berdasarkan ekosistem alam yang berkelanjutan dan self-sufficient. Pertama digagas di Australia, metode ini semakin banyak digunakan di berbagai belahan dunia. Di Indonesia, sejumlah organisasi dan komunitas pun telah menerapkan dan berusaha meningkatkan kesadaran masyarakat tentang permakultur.

Beberapa waktu lalu, tim Sandar Andara berkesempatan mengikuti sebuah Permaculture Design Course (PDC) yang diadakan oleh Mahayana Permaculture sekumpulan anak muda dengan berbagai latar belakang yang berupaya membawa perubahan positif di masa depan melalui prinsip-prinsip permakultur. Simak perbincangan kami dengan anggota Mahayana Permaculture, Mustaqim Raupp dan Danny Archer, tentang apa yang mereka sedang kerjakan.

In brief, apa itu Mahayana Permaculture?

Mahayana itu sekumpulan teman-teman yang sedang mencari alternatif cara hidup yang benar dari segi apapun, baik cara hidup sehari-hari, cara memilih makanan, sampai cara mencari uang yang benar. Kalau kita lihat, kebanyakan dari yang kita lakukan dan konsumsi menimbulkan banyak masalah. Jadi kami berusaha mencari cara hidup yang bisa menjadi solusi untuk masalah-masalah tersebut. Kami merasa permakultur cocok untuk dijadikan basis cara hidup alternatif ini, walaupun kami juga masih learning by doing.

Bagaimana awal mulanya kalian membentuk Mahayana Permaculture?

Tahun 2012, ayah dan adik saya, Wahyu, mengikuti PDC yang dibawakan Bill Mollison dan Geoff Lawton di Melbourne. Itu adalah salah satu lecture terakhir Bill Mollison sebelum dia sakit. Setelah itu, Wahyu bergabung dengan Melbourne Urban Permaculture dan mulai sedikit [demi sedikit] mengaplikasikan permakultur.

Setelah kami lulus kuliah dan kembali ke Indonesia, kami jadi sering ketemu dan banyak ngobrol sama teman-teman tentang permakultur. Kami jadi tertarik banget dan mulai research sendiri dengan baca, browsing di Internet, dan nonton video-video lecture-nya Bill. Akhirnya, karena kami semua menganggap permakultur ini make sense, kami bentuk Mahayana Permaculture dan berusaha mengaplikasikannya.

Awalnya kami menggunakan tanah milik keluarga Danny di Cisarua. Kami membangun rumah dan mulai menanam di sana. Tapi setelah setahun, karena beberapa hal kami harus pindah. Setelah cari-cari, sampailah kami di Salatiga dan bertemu dengan Mas Agus Tebeng yang mau bekerja sama dengan kami. Tempatnya juga cukup ideal, karena sudah ada beberapa contoh aplikasi permakultur. Akhirnya kami bangun rumah off-grid di sini.

Mahayana ingin membuat perubahan. Kenapa lewat permakultur?

Karena [hal] yang utama itu [adalah] makanan. We are what we eat. Jadi kalau kita mau cari apa yang paling penting untuk diubah, yang paling dekat dengan kita adalah makan. Ketika input jelek, pasti output juga jelek. Semua orang tahu saat ini makanan kita ‘enggak bener’, tapi jarang ada yang mau tackle masalah ini. Dari situlah kami berangkat. Permaculture is food first. It’s always about planting and living with nature. [Kami] tidak berhenti di makanan, prinsip permakultur juga jadi pedoman yang melingkupi banyak hal mendasar dari hidup, termasuk housing.

Apa saja program Mahayana saat ini dan di masa mendatang?

Di sini, sekarang kami fokus menetapkan zone zero, yaitu rumah. Kemudian kami menanam di zona satu dan dua. Setelah kami lihat sumber daya yang ada di daerah ini, baru kami bisa mulai produksi. Bisa bikin sabun, coconut oil, dan masih banyak lagi, tapi yang penting harus lokal. Kami akan mengaplikasikan pengetahuan kami, menerapkan cara-cara canggih dan modern pada sumber daya lokal, dan pastinya bekerja sama dengan petani setempat.

Target jangka pendek kami di daerah ini adalah mandiri pangan, selain itu air kali bersih dan bisa dipakai. Sedangkan target jangka panjangnya, ya produksi itu tadi—menghasilkan produk-produk merek Mahayana yang menguntungkan daerah sekitar. Kalau kami menang, masyarakat lokal juga harus menang.

Bagaimana perkembangan dan awareness soal permakultur di Indonesia?

Hampir tidak ada. Mungkin ada beberapa event PDC DI Bali atau Bumi Langit. Tapi kalau soal mainstream awareness, belum ada.

Sebenarnya permakultur dulu sudah ada di Indonesia, mungkin sekitar 100 tahun lalu. Kita bisa lihat contohnya di kebun-kebun jaman dulu atau di perkampungan. Tapi fokus kami sebenarnya bukan mengajar PDC, karena menurut kami kalau dengan edukasi saja kurang efektif. Kami fokus di praktek [dan] aplikasi langsung untuk membuktikan bahwa prinsip permakultur ini efektif. Kalau sudah ada bukti, secara otomatis akan menarik perhatian dan akan lebih gampang untuk direplikasikan di seluruh Indonesia.

Menurut saya, peserta PDC kami bisa tergerak untuk mempraktikan permakultur karena mereka bisa lihat secara langsung [bahwa] bentuk fisiknya tidak sesulit yang dikira dan sangat applicable. Dengan aplikasi di sini, kami bisa memberi informasi tentang harga, di mana mencari alatnya, dan seperti apa prosesnya. Jadi peserta akan merasa bahwa mereka pun bisa melakukannya. Ini yang kita harus bawa juga ke industri melalui produksi.

Menurut kalian, apa masalah utama terkait agrikultur berkelanjutan di Indonesia?

Masalah utamanya adalah kita masih negara berkembang. Maksudnya, kita masih mengejar uang karena merasa belum punya cukup. Istilahnya, kita belum mengapung, masih di bawah air. Ironisnya, salah satu alasan kita terbelakang soal sustainabilitas agrikultur adalah metode-metode industri dan nilai di Indonesia yang sudah bobrok.

Menurut saya, selama ini fokus kita salah. Kita semua mengejar uang, dan tidak ada yang peduli soal bagaimana proses yang benar. Kita berkiblat ke Barat, padahal belum tentu yang diterapkan di sana cocok dengan sumber daya, iklim usaha, dan budaya kita. Padahal, usaha yang tidak cocok dengan lokalitas pasti gagal. Jadi kenapa kita harus ikut-ikut? Seharusnya kita menyadari apa saja sumber daya alam kita dan bagaimana cara mengolahnya dengan benar.

Bagaimana cara memulai ‘perilaku makan’ yang lebih bertanggung jawab? Apa saja yang bisa dimulai dari rumah, terutama di kota besar seperti Jakarta?

Kalau di kota besar, cara nomor satu adalah kita harus mau tahu dari mana asal makanan yang kita konsumsi. Apakah yang di label organik itu benar-benar organik? Dengan begitu kita bisa lebih aware tentang makanan yang baik dan mengapresiasinya.

Di Jakarta, sebagian besar orang tinggal di kompleks. Kompleks itu sebenarnya banyak ruang hijaunya, sekitar 40%, tapi apa artinya kalau isinya hanya rumput-rumput. Cara paling bagus adalah untuk bilang ke Ketua RT bahwa ruang terbuka hijau itu bisa dipakai untuk menanam makanan, seperti pohon buah-buahan, ubi-ubian, atau kacang-kacangan yang nantinya bisa kita petik dan makan sendiri. Mungkin kita tidak menyadari sebelumnya, tapi coba bayangkan kalau setiap kompleks menerapkan hal itu. Kalau di rumah punya kebun, tanamlah makanan juga di sana.

Selain itu, sampah juga harus diperhatikan. Setelah kita lihat input (makanan) kita apa, kita harus lihat juga output (sampah) kita apa. Sampah harus dipilah antara sampah organik, plastik, dan lain-lain. Semuanya harus dimulai dari diri dan rumah kita sendiri. Mungkin saja tetangga kita akan melihat dan terdorong untuk melakukannya juga.

Menurut kalian bagaimana transisi yang paling efektif untuk dilakukan warga yang tinggal di daerah kota agar lebih terbuka tentang permakultur dan bertanggung jawab atas apa yang mereka lakukan?

Ya, contohnya, kalian yang ikut PDC, setelah dapat ilmu di sini bisa terus share ke teman-teman kalian. Tidak hanya sebatas teori, kalian bisa menunjukkan juga permakultur seperti apa.

Dengan ikut PDC saja, kita sama-sama merasakan hidup di desa itu bisa menyenangkan. Setelah bisa have fun di desa, kita harus cari cara bagaimana hidup di sini bisa berkelanjutan. Pastinya harus ada income, jadi kita harus melihat peluang yang diberikan kekayaan alam kita. Kalau kita sudah melihat peluang itu, baru kita berani bergerak. Nah, supaya kita bisa terus-menerus dapat kekayaan dari alam, harus ada sistem yang sustainable. Banyak yang bisa didapat dari movement permakultur. Kita bisa memproduksi dan mendapat pemasukan dari sana, sedangkan site bisa dijadikan eco-tourism dan sarana edukasi. Intinya, dengan permakultur kita bisa live sustainably with a sustainable income.