Xandega Tahajuansya: "Leading by example" dengan prinsip sustainability bisnis dan pribadi

Text and photo by Arunee Sarasetsiri

Simak perbincangan kami dengan Xandega Tahajuansya, Chief Operating Officer (COO) Magale Developments, tentang mengapa ia memutuskan untuk terjun ke bisnis properti di usia muda, hingga visi besar yang ingin dicapai lewat perumahan Sandar.

Apa yang bikin Anda percaya diri untuk terjun ke bisnis properti di usia muda?

Sebenarnya prosesnya sih cukup organik. Kalau saya ingat-ingat ke belakang, banyak hal-hal yang nggak saya rencanakan tapi mendukung untuk ambil kesempatan terjun ke properti. Jadi saya nggak mau menyia-nyiakan kesempatan itu. Untungnya, semua yang terlibat di Magale Developments adalah orang-orang yang kompeten dan berdedikasi, nggak ada yang kerjanya setengah-setengah, jadi saya rasa bisnis ini akan berkelanjutan. Mungkin bisnis ini cenderung lebih slow moving, tapi dengan harga tanah yang terus naik, investasi di properti sebetulnya aman untuk ke depannya.

Apa yang membuat Magale Developments beda dari developer lain?

Pertama, kami mengerjakan segala sesuatu dengan genuine. Saat kami bikin rumah atau tempat tinggal, kami selalu menempatkan diri sebagai penghuni. Karena sebagai penghuni pasti kita mau yang terbaik, dari segi kenyamanan, keamanan, kualitas, apapun. Jadi pertanyaan yang jadi dasar perencanaan pasti: Apakah gue sendiri nyaman dan mau untuk tinggal di rumah seperti itu?

Kedua, dari awal Magale Developments dibentuk, kami sudah punya visi yang jauh. Kami mencoba approach developer properti ini sebagai tech company yang visi ke depannya adalah membuat hidup manusia lebih baik. Nah, kami berusaha mewujudkan cara hidup manusia yang lebih baik lewat tempat tinggal mereka, karena lingkungan terdekat atau terkecil kita kan rumah kita sendiri. Jadi, tujuannya adalah sustainable living, tapi sekarang ini kami baru bisa terapkan responsible living dulu di kota besar. Paling nggak cara hidup yang bertanggung jawab ini nggak membuat kondisi kota yang sudah kurang sehat [menjadi] tambah parah. Jadi kami nggak hanya jual rumah saja, tapi cara hidup itu. Kami sudah tentukan goal kami, sudah merumuskan langkah-langkah apa saja yang harus diambil, cara-caranya bagaimana, dan sekarang tinggal kami eksekusi saja.

Image courtesy of Polka Wars

Anda juga aktif di dunia musik. Apakah ada sesuatu dari dunia musik yang memengaruhi cara Anda melihat bisnis properti?

Saya sering lihat musisi-musisi yang punya energi dan ekspresi yang unaltered atau uncorrupted. Mereka benar-bener genuine dan pure dalam bermusik. Itu sih yang menginspirasi buat saya. Menurut saya energi itu perlu juga untuk diaplikasikan ke bisnis. Jadi nggak hanya cari profit, tapi bisnis properti juga [bisa dijadikan] sebagai wadah ekspresi dan kreasi.

Apa yang ingin dicapai lewat konsep ‘responsible home-munity’ SANDAR ANDARA?

Tujuan utamanya adalah self-sustaining. Jadi, idealnya kami ingin bikin sebuah area bisa jadi ekosistem yang berdikari, dimana mereka memakai energi secara efisien, punya fasilitas yang dibutuhkan penghuni dalam jarak yang berdekatan, dan bisa memproduksi makanan sendiri.

Untuk menuju ke sana, sedikit demi sedikit kami implementasikan fitur-fitur responsible living di semua perumahan Sandar, termasuk SANDAR ANDARA sebagai yang pertama. Kami ingin orang-orang di kota mulai mengaplikasikan cara hidup yang lebih bertanggung jawab. Sebisa mungkin limbah yang dihasilkan nggak banyak, pemakaian energi lebih efisien tapi tetap nyaman, dan keseharian mereka nggak banyak berubah. Lewat SANDAR ANDARA, kami sediakan hunian dengan desain yang mendukung responsible living. Kami ingin penghuni SANDAR ANDARA juga bisa bangga dengan cara hidup itu, dan menyebarluaskan bahwa kenyamanan tidak berkurang saat kita hidup dengan lebih bertanggung jawab. Mereka bisa jadi contoh untuk orang-orang kota lainnya, karena belum banyak orang yang menjalankan cara hidup seperti itu di kota besar seperti Jakarta. Bahkan belum banyak orang yang peka bahwa apapun yang mereka lakukan itu punya efek yang besar terhadap lingkungan.

Saya harus menerapkan responsible living mulai dari diri saya sendiri dulu. Jangan sampai kami jadi hipokrit.

Apa saja tantangan dalam menerapkan konsep responsible living ini?

Yang pertama, saya harus menerapkan responsible living mulai dari diri saya sendiri dulu. Jangan sampai kami jadi hipokrit. Jadi kami semua di perusahaan [Magale] juga hidupnya harus responsible, berbisnis juga dengan cara yang responsible, dengan harapan nantinya akan ‘menular’ ke orang lain. Awalnya mungkin terasa nggak mudah. Tapi saat kita sudah benar-benar sadar bahwa apapun yang kita lakukan itu sangat berpengaruh, dan kalau kita bersikap indifferent itu dampaknya signifikan terhadap lingkungan, dorongan untuk hidup dengan lebih bertanggung jawab bakalan besar banget dan selanjutnya akan lebih mudah. 

Tapi kami juga nggak mau menggurui, jadi harus leading by example, memberi contoh secara organik dan gradual. Untuk SANDAR ANDARA, kami harus menemukan titik tengah, dimana rumah ini bisa menerapkan prinsip-prinsip responsible living, tapi nggak jadi mahal untuk calon penghuni yang mau beli. Kami harus bisa menunjukkan bahwa cara hidup ini nggak ribet, accessible untuk siapa saja, dan sebenarnya lifestyle kita nggak perlu berubah terlalu banyak. Kami juga nggak mau mendikte orang yang beli rumah di Sandar untuk harus bersikap responsible. Kami hanya memfasilitasi dengan desain rumah yang sedemikian rupa. Kalau orangnya nggak mau responsible, ya, it’s in their hands. Tapi sebenarnya fitur-fitur responsible yang ada di Sandar Andara ini efeknya langsung dan jadi benefit untuk penghuni juga, misalnya hemat listrik.

Apa harapan jangka pendek dan jangka panjang Anda?

Tentunya harapan supaya semua proyek Sandar berjalan lancar, dengan dukungan dari berbagai pihak atau medium. Saya juga berharap agar pesan yang ingin kami sampaikan lewat SANDAR ANDARA tersampaikan, bahwa semua orang bisa menjalankan hidupnya, apapun itu pekerjaan, status, atau latar belakangnya, secara responsible. Kami ingin SANDAR ANDARA bisa jadi contoh, sehingga nantinya gaya hidup ini akan jadi sesuatu yang common, yang diterapkan oleh banyak orang. Dalam waktu kurang dari 5 tahun, semoga kami bisa bikin proyek ideal di mana visi dan misi kami untuk mengubah cara hidup urban jadi lebih bertanggung jawab itu terlaksana.

Dalam jangka panjang, kami berharap dalam 10 tahun kami bisa membuat sebuah responsible living village yang self-sustaining di luar kota besar. Ini bisa dimanapundi Jawa, Sumatera, Sulawesi, atau Nusa Tenggara. Kami ingin membuat gaya hidup di desa yang berdikari sambil menjaga keberlanjutan lingkungan itu jadi gaya hidup baru yang paling keren, dan transmigrasi akan jadi tren. Kalau dari dulu orang desa ingin urbanisasi ke Jakarta karena media mainstream menggambarkan bahwa Jakarta memberikan banyak peluang, nantinya orang kota akan sadar bahwa hidup tidak bisa terus seperti sekarang ini. Tapi untuk ke sana kami harus mulai dari dalam kota dulu [dengan] memberikan alternatif cara hidup yang lebih baik di kota, lalu secara bertahap menggeser pola hidup ke arah responsible village tadi. Desa itu juga nggak cuma untuk orang Indonesia saja, tapi global citizen yang ingin menjalankan gaya hidup baru tersebut. Jadi nggak menutup kemungkinan kalau awal-awalnya yang ingin tinggal di desa justru masyarakat internasional, jadi tren, baru orang Indonesia mengikuti. Latah kalau untuk jadi lebih baik nggak ada salahnya menurut saya.