Rendria Arsyan Labde: Memperkenalkan cara hidup yang lebih baik mulai dari lingkungan terkecil

Text by Arunee Sarasetsiri. Photo by Xandega Tahajuansya & Kebun Kumara.

Mengenal lebih dekat Rendria Arsyan Labde, Co-Founder sekaligus Chief Executive Officer (CEO) Magale Developments lewat perbincangan tentang proyek Sandar, cara hidup yang lebih baik, sampai bagaimana permakultur mengubah cara pandangnya.

Bagaimana bisa memutuskan untuk keluar dari pekerjaan ‘mapan’ di bidang oil and gas dan memulai perusahaan properti sendiri?

Di masa kuliah saya sempat punya bisnis sendiri. Waktu itu saya mengalami banyak kejadian-kejadian baru yang mostly buruk. Tapi justru saat itu lebih terasa bahwa saya sedang memperjuangkan sesuatu yang meaningful, dan saya selalu punya harapan bahwa apa yang sedang dilakukan ini akan berbuah baik nantinya. Jadi saya terus bermimpi. Dinamika naik turun itulah yang membuat saya merasa lebih ‘hidup’.

Saat menjalani pekerjaan ‘mapan’, yang saya rasakan sangat bertolak belakang dengan pengalaman itu. Semuanya sudah di-set, seakan-akan ada rel yang juga sudah sering dijalankan oleh orang-orang. Seperti ada paradigma yang sudah terpatri sejak dulu kalau hidup adalah sekolah, kerja, nikah, punya anak, keluarga, mati. Jadi di sana saya malah merasa tidak mapan, karena apabila mapan artinya adalah kerja seperti itu, berarti pekerjaan mapan ini kurang cocok dengan prinsip hidup yang saya tuju dan percayai.

Akhirnya saya bertemu dengan sebuah kesempatan yang memperkenalkan saya ke industri properti bersama kedua sahabat saya (yang juga founder Magale Developments). Sejak itu, semangat yang tadinya hilang mulai hidup lagi, tentunya dengan harapan bisa lebih baik dari pengalaman bisnis sebelumnya.

Bisa dibilang kebetulan, ataupun mungkin takdir, bahwa saya bertemu dengan bisnis ini. Karena sejak dulu saya selalu merasa inspirasi pertama berasal dari lingkungan terdekat tiap individu, seperti keluarga, teman, dan rumah. Rumah berperan besar dalam pembangunan karakter dan perilaku tiap individu, mulai dari cara konsumsi, bersosialisasi, belajar dan berkembang. Setelah mempelajari lebih jauh industri properti dan segala aspek di dalamnya, semua terasa sangat logis, dan akhirnya saya memutuskan untuk mengambil langkah dalam membuat perusahaan sendiri dengan proyek pertama Sandar Andara.

Magale menaruh perhatian besar terhadap lingkungan. Apa kekhawatiran terbesar Anda tentang kondisi lingkungan kita sekarang?

Kekhawatiran terbesar saat ini adalah laju pemanasan global yang sudah tak terhentikan. Berdasarkan penelitian yang menjadi dasar Agreement Paris, peningkatan suhu bumi sudah mencapai di atas 1°C sejak masa industrialisasi, dan jika melebihi 2°C, kehidupan sudah nggak akan bisa sama seperti sekarang lagi. Sudah banyak kasus-kasus terjadi terkait hal ini, seperti gagal panen para petani di berbagai belahan dunia, dan bahkan ada orang yang meninggal dunia karena heat wave di beberapa negara.

Apa yang ingin dicapai lewat Magale Developments ataupun proyek Sandar?

Kami ingin mencoba berkontribusi dan berlaku positif terhadap alam. Dengan desain dan fitur-fitur yang diaplikasikan ke dalamnya, perumahan Sandar diharapkan bisa menginspirasi penghuninya dalam bertanggung jawab terhadap lingkungan alam maupun sosial.  

Kami merasa tempat tinggal sangat penting dalam hidup seseorang, karena pada dasarnya ‘papan’ memang salah satu kebutuhan primer manusia. Rumah adalah tempat ternyaman bagi tiap orang, dari bayi hingga dewasa. Itulah mengapa ada istilah “there’s no place like home”. Oleh karena itu, Magale selalu berpikir bahwa cara paling fundamental untuk bisa memperkenalkan cara hidup yang lebih baik adalah mulai dari lingkaran terkecil dulu, yaitu rumah. Banyak contoh cara hidup manusia, ataupun tata krama yang terbentuk dari kebiasaan-kebiasaan yang dilakukan di rumah.

Seperti apa cara hidup yang lebih baik menurut Magale?

Jika kita lihat dari perspektif kontribusi positif dan negatifnya, yang lebih baik pasti yang kontribusinya positif. ‘Rumah’ yang kita sebut dengan bumi ini memberikan manusia segalanya. Semua kekayaan dan kedaulatan yang didapatkan oleh tiap individu berasal dari Bumi. Jadi, untuk mempertahankan kekayaan dan kedaulatan itu, kita harus menjaga 'rumah' kita bersama ini.

Namun, saat ini yang sangat jelas sedang terjadi adalah demand akan sumber daya yang sangat besar, menyebabkan eksploitasi yang berlebihan untuk kepentingan kita sendiri. Analoginya seperti ini: kita punya tempat tinggal, tapi untuk dapat uang untuk makan dan hidup, yang kita jual malah kayu-kayu yang membuat rumah itu berdiri, sehingga lama-kelamaan rumah itu akan hancur dan kita akan kehilangan rumah. Akhirnya usaha kita untuk makan dan tetap hidup jadi pointless.

Kita harus lebih kritis terhadap segala sesuatu yang dilakukan. Know the problem. Sadari bahwa manusia hanyalah bagian dari alam, sama seperti makhluk hidup lainnya. Bayangkan saja kalau tiba-tiba gajah memutuskan untuk merusak bendungan danau yang membuat air mengalir deras dan merusak pemukiman manusia di sekitarnya hanya untuk memenuhi kebutuhan si gajah. Itulah yang sekarang dilakukan manusia terhadap makhluk hidup lain.

Menurut Anda bagaimana tingkat environmental awareness maupun inisiatif di Indonesia sekarang ini? Dan mengingat kondisi global sekarang yang sebenarnya sudah darurat, bagaimana menurut Anda cara untuk meningkatkan kesadaran itu?

Tingkat awareness kita saat ini mungkin bisa dibilang sangat minim. Padahal dengan lokasi yang sangat strategis, Indonesia punya sumber daya yang berlimpah. Tapi pengelolaannya sangat tidak bertanggung jawab dan sering tidak tepat guna. Sekarang dunia berbondong-bondong bergeser ke arah renewable energy, sedangkan Indonesia masih cenderung stagnan dengan pendekatan business as usual-nya.

Manusia adalah makhluk hidup juga, dan salah satu sifat dasarnya adalah to survive. Sebagian besar energi yang diproduksi sekarang berasal dari sumber nonrenewable. Masyarakat luas sudah tahu kalau yang namanya nonrenewable energy suatu saat akan habis, tapi saat ini kita masih sangat bergantung pada minyak, batu bara, dan lain-lain. Bayangkan ketika seluruh nonrenewable source itu benar-benar habis. Hidup kita akan berubah drastis secara tiba-tiba.

Untuk meningkatkannya harus dimulai dari diri masing-masing. Seringkali kita terbiasa untuk langsung menyalahkan pemerintah. Walaupun memang benar pemerintah memegang peranan besar dalam hal ini, tapi sifat menyalahkan itu menjadi excuse yang sebenarnya menghambat perubahan di dalam diri masing-masing individu. Perilaku kita merupakan vote atas sistem yang berjalan. Jika perilaku kita terus-menerus berdasar pada sistem yang salah, itu menjadi pembuktian bahwa sistem tersebut berhasil dan akan terus berjalan. Contoh paling konkret adalah perilaku konsumsi manusia. Ketika kita terus menerus mengkonsumsi plastik yang merupakan perusak utama lingkungan dan ekosistem, maka plastik akan terus diproduksi dan akhirnya semakin mencemari lingkungan.

Anda pernah ikut Permaculture Design Course. Bagaimana permaculture mengubah cara pandang Anda terhadap lingkungan ataupun mempengaruhi decision making dalam Magale?

Setelah ikut PDC, permaculture menjadi guide untuk saya memandang kehidupan. Bahwa manusia adalah bagian dari alam, bagian dari ekosistem, dan alam selalu memberikan apapun yang kita butuhkan. It’s about working with nature and not against it. Permaculture mengajarkan saya untuk lebih membuka mata dan menghargai alam sebagaimana mestinya. Ada cara kerja alam yang bisa manusia pelajari sehingga kita bisa membantu mereka untuk membantu kita lebih jauh. Dengan permaculture semuanya dibuat menjadi lebih logis.

Anda juga membuat Kebun Kumara. Bisa ceritakan tentang Kebun Kumara?

Salah satu masalah paling fundamental di Indonesia adalah masalah edukasi: kualitasnya, distribusi yang tidak merata dan masih banyak lagi. Edukasi yang selama ini diajarkan di lingkungan urban bertanggung jawab atas kesenggangan kita dengan alam. Kebun Kumara bertujuan untuk membantu generasi muda untuk kembali lebih sadar dan memiliki koneksi mendalam dengan alam, bahwa we have to live with nature, because we are part of nature.

Situ Gintung merupakan tempat wisata yang digunakan untuk outbound, berkemah, dan lain-lain, dengan lokasi yang sangat strategis, resourceful, indah, dan penuh potensi. Namun, karena sangat banyak pengunjung yang datang ke tempat ini, semakin banyak juga masalah yang timbul. Masalah yang paling utama adalah sampah. Pembakaran dan penimbunan sudah jadi hal biasa, pencemaran lingkungan pun sudah seakan mendarah daging di area ini.

Kebun Kumara menyadari potensi dan masalah tersebut. Kami berencana untuk merevitalisasi tempat ini baik dari segi lingkungan maupun sosial, dan menjadikannya sebuah praktik kehidupan mandiri berbasis permaculture. Target utama adalah anak-anak muda yang diharapkan bisa menyebarluaskan ilmunya ke khalayak luas. Selain itu, dari segi personal, kami juga menginginkan kehidupan yang berdaulat dan berkelanjutan, tidak bergantung terhadap industri-industri yang bertanggung jawab atas kerusakan ‘rumah’ kita.

31_3_7_n.jpeg

Xandega Tahajuansya: "Leading by example" dengan prinsip sustainability bisnis dan pribadi

Text and photo by Arunee Sarasetsiri

Simak perbincangan kami dengan Xandega Tahajuansya, Chief Operating Officer (COO) Magale Developments, tentang mengapa ia memutuskan untuk terjun ke bisnis properti di usia muda, hingga visi besar yang ingin dicapai lewat perumahan Sandar.

Apa yang bikin Anda percaya diri untuk terjun ke bisnis properti di usia muda?

Sebenarnya prosesnya sih cukup organik. Kalau saya ingat-ingat ke belakang, banyak hal-hal yang nggak saya rencanakan tapi mendukung untuk ambil kesempatan terjun ke properti. Jadi saya nggak mau menyia-nyiakan kesempatan itu. Untungnya, semua yang terlibat di Magale Developments adalah orang-orang yang kompeten dan berdedikasi, nggak ada yang kerjanya setengah-setengah, jadi saya rasa bisnis ini akan berkelanjutan. Mungkin bisnis ini cenderung lebih slow moving, tapi dengan harga tanah yang terus naik, investasi di properti sebetulnya aman untuk ke depannya.

Apa yang membuat Magale Developments beda dari developer lain?

Pertama, kami mengerjakan segala sesuatu dengan genuine. Saat kami bikin rumah atau tempat tinggal, kami selalu menempatkan diri sebagai penghuni. Karena sebagai penghuni pasti kita mau yang terbaik, dari segi kenyamanan, keamanan, kualitas, apapun. Jadi pertanyaan yang jadi dasar perencanaan pasti: Apakah gue sendiri nyaman dan mau untuk tinggal di rumah seperti itu?

Kedua, dari awal Magale Developments dibentuk, kami sudah punya visi yang jauh. Kami mencoba approach developer properti ini sebagai tech company yang visi ke depannya adalah membuat hidup manusia lebih baik. Nah, kami berusaha mewujudkan cara hidup manusia yang lebih baik lewat tempat tinggal mereka, karena lingkungan terdekat atau terkecil kita kan rumah kita sendiri. Jadi, tujuannya adalah sustainable living, tapi sekarang ini kami baru bisa terapkan responsible living dulu di kota besar. Paling nggak cara hidup yang bertanggung jawab ini nggak membuat kondisi kota yang sudah kurang sehat [menjadi] tambah parah. Jadi kami nggak hanya jual rumah saja, tapi cara hidup itu. Kami sudah tentukan goal kami, sudah merumuskan langkah-langkah apa saja yang harus diambil, cara-caranya bagaimana, dan sekarang tinggal kami eksekusi saja.

Image courtesy of Polka Wars

Anda juga aktif di dunia musik. Apakah ada sesuatu dari dunia musik yang memengaruhi cara Anda melihat bisnis properti?

Saya sering lihat musisi-musisi yang punya energi dan ekspresi yang unaltered atau uncorrupted. Mereka benar-bener genuine dan pure dalam bermusik. Itu sih yang menginspirasi buat saya. Menurut saya energi itu perlu juga untuk diaplikasikan ke bisnis. Jadi nggak hanya cari profit, tapi bisnis properti juga [bisa dijadikan] sebagai wadah ekspresi dan kreasi.

Apa yang ingin dicapai lewat konsep ‘responsible home-munity’ SANDAR ANDARA?

Tujuan utamanya adalah self-sustaining. Jadi, idealnya kami ingin bikin sebuah area bisa jadi ekosistem yang berdikari, dimana mereka memakai energi secara efisien, punya fasilitas yang dibutuhkan penghuni dalam jarak yang berdekatan, dan bisa memproduksi makanan sendiri.

Untuk menuju ke sana, sedikit demi sedikit kami implementasikan fitur-fitur responsible living di semua perumahan Sandar, termasuk SANDAR ANDARA sebagai yang pertama. Kami ingin orang-orang di kota mulai mengaplikasikan cara hidup yang lebih bertanggung jawab. Sebisa mungkin limbah yang dihasilkan nggak banyak, pemakaian energi lebih efisien tapi tetap nyaman, dan keseharian mereka nggak banyak berubah. Lewat SANDAR ANDARA, kami sediakan hunian dengan desain yang mendukung responsible living. Kami ingin penghuni SANDAR ANDARA juga bisa bangga dengan cara hidup itu, dan menyebarluaskan bahwa kenyamanan tidak berkurang saat kita hidup dengan lebih bertanggung jawab. Mereka bisa jadi contoh untuk orang-orang kota lainnya, karena belum banyak orang yang menjalankan cara hidup seperti itu di kota besar seperti Jakarta. Bahkan belum banyak orang yang peka bahwa apapun yang mereka lakukan itu punya efek yang besar terhadap lingkungan.

Saya harus menerapkan responsible living mulai dari diri saya sendiri dulu. Jangan sampai kami jadi hipokrit.

Apa saja tantangan dalam menerapkan konsep responsible living ini?

Yang pertama, saya harus menerapkan responsible living mulai dari diri saya sendiri dulu. Jangan sampai kami jadi hipokrit. Jadi kami semua di perusahaan [Magale] juga hidupnya harus responsible, berbisnis juga dengan cara yang responsible, dengan harapan nantinya akan ‘menular’ ke orang lain. Awalnya mungkin terasa nggak mudah. Tapi saat kita sudah benar-benar sadar bahwa apapun yang kita lakukan itu sangat berpengaruh, dan kalau kita bersikap indifferent itu dampaknya signifikan terhadap lingkungan, dorongan untuk hidup dengan lebih bertanggung jawab bakalan besar banget dan selanjutnya akan lebih mudah. 

Tapi kami juga nggak mau menggurui, jadi harus leading by example, memberi contoh secara organik dan gradual. Untuk SANDAR ANDARA, kami harus menemukan titik tengah, dimana rumah ini bisa menerapkan prinsip-prinsip responsible living, tapi nggak jadi mahal untuk calon penghuni yang mau beli. Kami harus bisa menunjukkan bahwa cara hidup ini nggak ribet, accessible untuk siapa saja, dan sebenarnya lifestyle kita nggak perlu berubah terlalu banyak. Kami juga nggak mau mendikte orang yang beli rumah di Sandar untuk harus bersikap responsible. Kami hanya memfasilitasi dengan desain rumah yang sedemikian rupa. Kalau orangnya nggak mau responsible, ya, it’s in their hands. Tapi sebenarnya fitur-fitur responsible yang ada di Sandar Andara ini efeknya langsung dan jadi benefit untuk penghuni juga, misalnya hemat listrik.

Apa harapan jangka pendek dan jangka panjang Anda?

Tentunya harapan supaya semua proyek Sandar berjalan lancar, dengan dukungan dari berbagai pihak atau medium. Saya juga berharap agar pesan yang ingin kami sampaikan lewat SANDAR ANDARA tersampaikan, bahwa semua orang bisa menjalankan hidupnya, apapun itu pekerjaan, status, atau latar belakangnya, secara responsible. Kami ingin SANDAR ANDARA bisa jadi contoh, sehingga nantinya gaya hidup ini akan jadi sesuatu yang common, yang diterapkan oleh banyak orang. Dalam waktu kurang dari 5 tahun, semoga kami bisa bikin proyek ideal di mana visi dan misi kami untuk mengubah cara hidup urban jadi lebih bertanggung jawab itu terlaksana.

Dalam jangka panjang, kami berharap dalam 10 tahun kami bisa membuat sebuah responsible living village yang self-sustaining di luar kota besar. Ini bisa dimanapundi Jawa, Sumatera, Sulawesi, atau Nusa Tenggara. Kami ingin membuat gaya hidup di desa yang berdikari sambil menjaga keberlanjutan lingkungan itu jadi gaya hidup baru yang paling keren, dan transmigrasi akan jadi tren. Kalau dari dulu orang desa ingin urbanisasi ke Jakarta karena media mainstream menggambarkan bahwa Jakarta memberikan banyak peluang, nantinya orang kota akan sadar bahwa hidup tidak bisa terus seperti sekarang ini. Tapi untuk ke sana kami harus mulai dari dalam kota dulu [dengan] memberikan alternatif cara hidup yang lebih baik di kota, lalu secara bertahap menggeser pola hidup ke arah responsible village tadi. Desa itu juga nggak cuma untuk orang Indonesia saja, tapi global citizen yang ingin menjalankan gaya hidup baru tersebut. Jadi nggak menutup kemungkinan kalau awal-awalnya yang ingin tinggal di desa justru masyarakat internasional, jadi tren, baru orang Indonesia mengikuti. Latah kalau untuk jadi lebih baik nggak ada salahnya menurut saya.

Mahayana Permaculture: Menyebarkan ‘virus’ permakultur lewat praktik nyata

Text by Arunee Sarasetsiri and Rendria Arsyan Labde. Photo by Mahayana Permaculture.

Permakultur adalah sistem agrikultur dan prinsip desain lingkungan berdasarkan ekosistem alam yang berkelanjutan dan self-sufficient. Pertama digagas di Australia, metode ini semakin banyak digunakan di berbagai belahan dunia. Di Indonesia, sejumlah organisasi dan komunitas pun telah menerapkan dan berusaha meningkatkan kesadaran masyarakat tentang permakultur.

Beberapa waktu lalu, tim Sandar Andara berkesempatan mengikuti sebuah Permaculture Design Course (PDC) yang diadakan oleh Mahayana Permaculture sekumpulan anak muda dengan berbagai latar belakang yang berupaya membawa perubahan positif di masa depan melalui prinsip-prinsip permakultur. Simak perbincangan kami dengan anggota Mahayana Permaculture, Mustaqim Raupp dan Danny Archer, tentang apa yang mereka sedang kerjakan.

In brief, apa itu Mahayana Permaculture?

Mahayana itu sekumpulan teman-teman yang sedang mencari alternatif cara hidup yang benar dari segi apapun, baik cara hidup sehari-hari, cara memilih makanan, sampai cara mencari uang yang benar. Kalau kita lihat, kebanyakan dari yang kita lakukan dan konsumsi menimbulkan banyak masalah. Jadi kami berusaha mencari cara hidup yang bisa menjadi solusi untuk masalah-masalah tersebut. Kami merasa permakultur cocok untuk dijadikan basis cara hidup alternatif ini, walaupun kami juga masih learning by doing.

Bagaimana awal mulanya kalian membentuk Mahayana Permaculture?

Tahun 2012, ayah dan adik saya, Wahyu, mengikuti PDC yang dibawakan Bill Mollison dan Geoff Lawton di Melbourne. Itu adalah salah satu lecture terakhir Bill Mollison sebelum dia sakit. Setelah itu, Wahyu bergabung dengan Melbourne Urban Permaculture dan mulai sedikit [demi sedikit] mengaplikasikan permakultur.

Setelah kami lulus kuliah dan kembali ke Indonesia, kami jadi sering ketemu dan banyak ngobrol sama teman-teman tentang permakultur. Kami jadi tertarik banget dan mulai research sendiri dengan baca, browsing di Internet, dan nonton video-video lecture-nya Bill. Akhirnya, karena kami semua menganggap permakultur ini make sense, kami bentuk Mahayana Permaculture dan berusaha mengaplikasikannya.

Awalnya kami menggunakan tanah milik keluarga Danny di Cisarua. Kami membangun rumah dan mulai menanam di sana. Tapi setelah setahun, karena beberapa hal kami harus pindah. Setelah cari-cari, sampailah kami di Salatiga dan bertemu dengan Mas Agus Tebeng yang mau bekerja sama dengan kami. Tempatnya juga cukup ideal, karena sudah ada beberapa contoh aplikasi permakultur. Akhirnya kami bangun rumah off-grid di sini.

Mahayana ingin membuat perubahan. Kenapa lewat permakultur?

Karena [hal] yang utama itu [adalah] makanan. We are what we eat. Jadi kalau kita mau cari apa yang paling penting untuk diubah, yang paling dekat dengan kita adalah makan. Ketika input jelek, pasti output juga jelek. Semua orang tahu saat ini makanan kita ‘enggak bener’, tapi jarang ada yang mau tackle masalah ini. Dari situlah kami berangkat. Permaculture is food first. It’s always about planting and living with nature. [Kami] tidak berhenti di makanan, prinsip permakultur juga jadi pedoman yang melingkupi banyak hal mendasar dari hidup, termasuk housing.

Apa saja program Mahayana saat ini dan di masa mendatang?

Di sini, sekarang kami fokus menetapkan zone zero, yaitu rumah. Kemudian kami menanam di zona satu dan dua. Setelah kami lihat sumber daya yang ada di daerah ini, baru kami bisa mulai produksi. Bisa bikin sabun, coconut oil, dan masih banyak lagi, tapi yang penting harus lokal. Kami akan mengaplikasikan pengetahuan kami, menerapkan cara-cara canggih dan modern pada sumber daya lokal, dan pastinya bekerja sama dengan petani setempat.

Target jangka pendek kami di daerah ini adalah mandiri pangan, selain itu air kali bersih dan bisa dipakai. Sedangkan target jangka panjangnya, ya produksi itu tadi—menghasilkan produk-produk merek Mahayana yang menguntungkan daerah sekitar. Kalau kami menang, masyarakat lokal juga harus menang.

Bagaimana perkembangan dan awareness soal permakultur di Indonesia?

Hampir tidak ada. Mungkin ada beberapa event PDC DI Bali atau Bumi Langit. Tapi kalau soal mainstream awareness, belum ada.

Sebenarnya permakultur dulu sudah ada di Indonesia, mungkin sekitar 100 tahun lalu. Kita bisa lihat contohnya di kebun-kebun jaman dulu atau di perkampungan. Tapi fokus kami sebenarnya bukan mengajar PDC, karena menurut kami kalau dengan edukasi saja kurang efektif. Kami fokus di praktek [dan] aplikasi langsung untuk membuktikan bahwa prinsip permakultur ini efektif. Kalau sudah ada bukti, secara otomatis akan menarik perhatian dan akan lebih gampang untuk direplikasikan di seluruh Indonesia.

Menurut saya, peserta PDC kami bisa tergerak untuk mempraktikan permakultur karena mereka bisa lihat secara langsung [bahwa] bentuk fisiknya tidak sesulit yang dikira dan sangat applicable. Dengan aplikasi di sini, kami bisa memberi informasi tentang harga, di mana mencari alatnya, dan seperti apa prosesnya. Jadi peserta akan merasa bahwa mereka pun bisa melakukannya. Ini yang kita harus bawa juga ke industri melalui produksi.

Menurut kalian, apa masalah utama terkait agrikultur berkelanjutan di Indonesia?

Masalah utamanya adalah kita masih negara berkembang. Maksudnya, kita masih mengejar uang karena merasa belum punya cukup. Istilahnya, kita belum mengapung, masih di bawah air. Ironisnya, salah satu alasan kita terbelakang soal sustainabilitas agrikultur adalah metode-metode industri dan nilai di Indonesia yang sudah bobrok.

Menurut saya, selama ini fokus kita salah. Kita semua mengejar uang, dan tidak ada yang peduli soal bagaimana proses yang benar. Kita berkiblat ke Barat, padahal belum tentu yang diterapkan di sana cocok dengan sumber daya, iklim usaha, dan budaya kita. Padahal, usaha yang tidak cocok dengan lokalitas pasti gagal. Jadi kenapa kita harus ikut-ikut? Seharusnya kita menyadari apa saja sumber daya alam kita dan bagaimana cara mengolahnya dengan benar.

Bagaimana cara memulai ‘perilaku makan’ yang lebih bertanggung jawab? Apa saja yang bisa dimulai dari rumah, terutama di kota besar seperti Jakarta?

Kalau di kota besar, cara nomor satu adalah kita harus mau tahu dari mana asal makanan yang kita konsumsi. Apakah yang di label organik itu benar-benar organik? Dengan begitu kita bisa lebih aware tentang makanan yang baik dan mengapresiasinya.

Di Jakarta, sebagian besar orang tinggal di kompleks. Kompleks itu sebenarnya banyak ruang hijaunya, sekitar 40%, tapi apa artinya kalau isinya hanya rumput-rumput. Cara paling bagus adalah untuk bilang ke Ketua RT bahwa ruang terbuka hijau itu bisa dipakai untuk menanam makanan, seperti pohon buah-buahan, ubi-ubian, atau kacang-kacangan yang nantinya bisa kita petik dan makan sendiri. Mungkin kita tidak menyadari sebelumnya, tapi coba bayangkan kalau setiap kompleks menerapkan hal itu. Kalau di rumah punya kebun, tanamlah makanan juga di sana.

Selain itu, sampah juga harus diperhatikan. Setelah kita lihat input (makanan) kita apa, kita harus lihat juga output (sampah) kita apa. Sampah harus dipilah antara sampah organik, plastik, dan lain-lain. Semuanya harus dimulai dari diri dan rumah kita sendiri. Mungkin saja tetangga kita akan melihat dan terdorong untuk melakukannya juga.

Menurut kalian bagaimana transisi yang paling efektif untuk dilakukan warga yang tinggal di daerah kota agar lebih terbuka tentang permakultur dan bertanggung jawab atas apa yang mereka lakukan?

Ya, contohnya, kalian yang ikut PDC, setelah dapat ilmu di sini bisa terus share ke teman-teman kalian. Tidak hanya sebatas teori, kalian bisa menunjukkan juga permakultur seperti apa.

Dengan ikut PDC saja, kita sama-sama merasakan hidup di desa itu bisa menyenangkan. Setelah bisa have fun di desa, kita harus cari cara bagaimana hidup di sini bisa berkelanjutan. Pastinya harus ada income, jadi kita harus melihat peluang yang diberikan kekayaan alam kita. Kalau kita sudah melihat peluang itu, baru kita berani bergerak. Nah, supaya kita bisa terus-menerus dapat kekayaan dari alam, harus ada sistem yang sustainable. Banyak yang bisa didapat dari movement permakultur. Kita bisa memproduksi dan mendapat pemasukan dari sana, sedangkan site bisa dijadikan eco-tourism dan sarana edukasi. Intinya, dengan permakultur kita bisa live sustainably with a sustainable income.

Andesh dan Ardi: Sustainability sebagai titik awal desain arsitektur

by Arunee Sarasetsiri dan Putti Kaya Hatti Imani

Kedua arsitek muda ini merupakan otak di balik desain ‘bertanggung jawab’ perumahan Sandar Andara. Setelah lulus dari Universitas Trisakti, Jakarta, Andesh dan Ardi terjun ke dunia praktisi sebagai arsitek, dan keduanya telah bekerja sama dalam sejumlah proyek. Selain menjadi arsitek, Andesh juga terlibat sebagai peneliti di Rujak Center for Urban Studies, sebuah lembaga kajian perkotaan yang bergerak di bidang tata kota, advokasi kebijakan, hingga pengembangan komunitas ke arah sustainability. Kami berbincang dengan Andesh dan Ardi untuk mengetahui lebih lanjut tentang keterlibatannya dalam Sandar Andara, proses desain, hingga pendapatnya tentang hunian yang bertanggung jawab.

Bagaimana awalnya bisa bekerja sama dengan Magale Developments?

Awalnya dari koneksi sekolah [Ardi bersekolah di SMA yang sama dengan tim Magale Developments]. Kami bertemu dan mereka menjelaskan keinginan mereka untuk membuat Sandar Andara. Visi misinya tidak seperti developer perumahan pada umumnya yang semata-mata keuntungan. Kualitas adalah yang utama. Walaupun ada penyesuaian budget, tapi desain dan kondisi bangunan harus tetap bagus.

Kebanyakan developer kurang memperhatikan kondisi bangunan dan material saat konstruksi. Biasanya mereka sudah punya rumus baku; denah seperti apa yang paling menguntungkan, kemudian fasadnya yang dibuat berbeda. Tapi setelah ngobrol dengan tim Magale tentang rencana ke depan, kami merasa ini akan jadi proyek yang seru, karena kami benar-benar bisa mengeksplorasi desain lebih jauh. Mereka ingin SANDAR ANDARA berbeda dari perumahan lainnya.

Bagaimana kalian menerjemahkan brief tersebut ke dalam desain?

Awalnya dari dialog. Kemudian kami menggali visi misi mereka dan kebutuhan target pasar yang merupakan keluarga modern. Kami mendesainnya sedemikian rupa supaya setiap unit yang luasnya 120 m2 ini bisa mengakomodir banyak kebutuhan. Setelah kami presentasikan, ternyata konsep awal disetujui dan tidak banyak perubahan fundamental, hanya penyesuaian layout. Akhirnya, kami membuat opsi-opsi untuk klien, misalnya pilih kamar tidur utama di lantai dua atau tiga, dan pilih punya ruang multifungsi atau kamar utama yang lebih besar. Jadi ada kemungkinan 6 unit ini memiliki perbedaan yang sesuai dengan keinginan klien nantinya, walaupun secara struktur tetap sama untuk memudahkan konstruksi. Sebagai arsitek kami bertugas menjelaskan konsekuensi-konsekuensi dari setiap pilihan desain, dan memberi masukan tentang [pilihan] mana yang lebih baik.

Apa saja yang mempengaruhi desain Anda?

Sejak tahun 2012, saya [Andesh] mulai aktif di Rujak Center for Urban Studies, dan mulai tahun 2014 mulai part-time di organisasi tersebut sebagai peneliti. Isu yang ditemukan bermacam-macam, mulai dari advokasi penggusuran, lingkungan hidup, sampai kesenian. Persinggungan dengan isu-isu ini yang membuat perspektif saya lebih luas. Saya tidak lagi melihat desain sebagai desain saja. Desain itu punya dampak ekologis, dampak sosial, psikologis, sampai pola konsumsi klien. Ini sangat berpengaruh pada desain saya.

Bagi kalian, apakah sustainability itu pilihan, keharusan, atau memang bagian dari desain yang tak terpisahkan?

Kami menjadikannya sebagai titik awal. Konsep desain awal yang ditawarkan selalu berawal dari sustainability. Dari situ baru kami lihat proses negosiasi dengan klien akan berjalan sejauh apa.

Sejauh mana kolaborasi kalian dengan pihak developer?

Menurut kami, selama ini proses dialog antara kami dengan pihak developer terjadi dengan baik. [Tentu saja] ada perdebatan dan negosiasi. Pada akhirnya, kami menemukan kesepakatan yang kami anggap paling baik, tidak ada pihak-pihak yang memaksakan kehendak. Kami menemukan common ground terlebih dahulu, jadi selanjutnya dialog akan mengarah ke penemuan solusi.

Filosofi SANDAR ANDARA adalah Responsible Home-munity. Menurut kalian, bangunan atau hunian yang ‘responsible’ itu seperti apa?

Sebenarnya yang bisa responsible itu bukan bangunannya, tapi orangnya. Orang ini berarti desainer, developer, dan penghuninya. Kalau ketiganya mampu bertanggung jawab terhadap apa yang dia lakukan, tentu lebih baik. Bangunan pada akhirnya hanya jadi dampak dari pertanggung jawaban tiga manusia ini.

Nah, sejauh mana desain itu responsible adalah tanggung jawab kami sebagai arsitek. Mungkin rumah ini belum bisa dikatakan sepenuhnya bangunan ramah lingkungan. Tapi dengan konteks di mana rumah ini untuk dijual dan penghuninya kami belum tahu seperti apa, kami usahakan tanggung jawab itu sejauh mungkin [dari pihak kami]. Misalnya dengan membuat pembukaan ventilasi silang. Selain itu, sebisa mungkin kami memberikan opsi, seperti jendela bisa dibuka dan ditutup untuk pemakaian AC. Kalau arsitek tidak memberikan opsi, itu yang menurut kami kurang bertanggung jawab.

Developer bertanggung jawab pada tahap pembangunan, sedangkan penghuni bertanggung jawab dalam tahap maintenance. Saat dihuni, arsitek dandeveloper sudah tidak ada, sehingga aktor utamanya adalah penghuni. Jika penghuni tidak merawat rumah dengan baik, tentu ada dampaknya. Walaupun sudah ada opsi untuk pola konsumsi yang lebih baik tapi penghuni tidak menerapkannya, tentu bangunannya juga jadi tidak bertanggung jawab. Selama manusianya tidak bertanggung jawab, bangunan juga tidak.

Metode responsible apa saja yang diterapkan di SANDAR ANDARA? 

Isu pertamanya adalah iklim, jadi kami buat rumah menghadap utara-selatan. Bukaan juga lebih banyak di sisi utara dan selatan untuk ventilasi silang dan memastikan cahaya matahari di dalam ruangan cukup banyak tapi tidak terlalu panas.

Isu lainnya adalah air. Kami mengupayakan air yang dipakai di perumahan ini sebisa mungkin dampaknya tidak terlalu negatif. Jadi kami buat sumur resapan, supaya apa yang sudah dipakai bisa dikembalikan ke dalam site, yang kemudian dengan proses filtrasi alam akan dapat terpakai kembali. Kami juga membuat bak penampung air hujan untuk rain harvesting system, sehingga air hujan bisa digunakan untuk kamar mandi, menyiram tanaman, atau mencuci. Keputusan ini juga menuntut pekerjaan tambahan dari penghuni, karena kalau tidak dirawat, sistemnya tidak akan berjalan.

Selain itu, kami juga memperhitungkan penggunaan material. Desain punya peranan penting dalam sejauh mana konsumsi material sebuah bangunan. Rumah yang banyak tembok pasti mengonsumsi material lebih banyak dari rumah yang temboknya sedikit. Tembok itu sendiri terdiri dari material bata, semen, yang untuk memproduksinya juga menghasilkan carbon footprint. Oleh karena itu, layout rumah di Sandar Andara sebisa mungkin kami buat open-plan. Tidak ada sekat yang memisahkan ruang tamu, ruang makan, dan dapur.

Hal-hal yang sederhana seperti ini yang kadang tidak kita sadari dampak positifnya, misalnya konsumsi listrik yang jadi lebih sedikit. Meskipun secara keseluruhan dampak ekologis bangunan masih negatif, tapi dampak negatif ini harus dijadikan sesedikit mungkin.

Realitanya, masih ada anggapan bahwa sustainability itu mahal. Bagaimana menurut kalian?

Sebenarnya kalau mau rumah sustainable itu investasinya bukan uang, tapi pikiran dan energi untuk berpikir. Untuk menjadikan sebuah rumah sustainable atau peka terhadap lingkungan, kita harus berpikir lebih keras, dan memang lebih sulit. Itu yang tidak semua orang menyanggupi. Ada kecenderungan masyarakat menginginkan hal yang sifatnya instan, padahal sustainability tidak bisa dihasilkan dari proses berpikir yang instan. Kalau dianalogikan dengan makanan, tentu mie instan nutrisinya tidak sebanyak capcay yang bahannya segar atau organik, serta disiapkan dan dimasak sendiri.

Rumah yang sustainable pun tidak otomatis lebih mahal. Kalau kita berpikir lebih keras lagi, mungkin rumah yang sustainable justru bisa lebih murah. Terkait uang, kita juga harus melihat secara jangka panjang. Mungkin di awal terasa lebih mahal, tapi selama 20 tahun ke depan, sangat mungkin sustainability itu lebih murah.

Seberapa jauh tingkat kesadaran masyarakat di Indonesia terhadap sustainability saat ini bagaimana?

Masih kurang, bahkan sampai generasi yang paling baru pun belum banyak. Ada yang sudah aware, tapi secara umum tidak mudah menemukan klien yang punya pemahaman, atau minimal terbuka terhadap pemikiran itu. Ada ketakutan, bahkan terhadap desain itu sendiri. Masih banyak yang takut dengan desain, karena prosesnya yang lebih lama dan menuntut untuk berpikir. Kembali lagi ke investasi pikiran tadi. Bukan hanya klien, arsitek juga masih ada yang tidak melatih kepekaan itu.

Isu sustainability sangat besar secara global, tapi di Indonesia terkadang konsep green masih sekadar menjadi gimmick. Bagaimana tanggapan kalian? 

Ada pengaruh media juga di sini. Media di Indonesia cenderung mengekspos desain dari segi bentuknya saja, bukan tentang nilai, konsep, semangat, proses, dan dialog. Jadi desain itu dianggap sebagai produk akhir saja, akhirnya yang ada peniruan. Makanya konsep green di Indonesia pun terlambat 20 tahun dari dunia luar karena kita meniru apa yang terjadi di luar. Seringkali yang ditiru hanya bentuknya, bukan esensinya. Padahal dari segi konteks tidak sama, dan bisa jadi yang diterapkan di sana tidak sesuai dengan di sini.

5-10 tahun lalu mungkin ‘latah’ atau peniruan masih banyak sekali. Namun, sekarang desain yang lebih kritis sudah mulai banyak. Penghargaan arsitektur juga tidak hanya melihat tampilannya, tapi juga sistem riil dan konteksnya. Memang ini semua proses, tapi prosesnya secepat atau selambat apa bergantung pada kita.